Lawang (MTsN 3 Malang) – Bertempat di Aula multifungsi madrasah, Kamis (18/12), MTsN 3 Malang menggelar kegiatan pelaporan hasil belajar semester ganjil. Kegiatan penerimaan rapor tersebut dihadiri oleh sekitar seribu ayah murid dan dilaksanakan dalam rangka Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), yang merupakan bagian dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Kepala MTsN 3 Malang, menjelaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengambilan rapor bukan sekadar simbol kehadiran, melainkan bentuk nyata kepedulian dan tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan akademik dan karakter anak. “Kami ingin membangun kesadaran bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Kehadiran ayah memberikan pesan kuat kepada anak bahwa belajar itu penting dan mendapat perhatian penuh dari keluarga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hj. Warsi menegaskan bahwa kegiatan GEMAR bukanlah program baru di MTsN 3 Malang, melainkan sudah menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan madrasah dalam membangun kolaborasi orang tua dan sekolah. “MTsN 3 Malang secara konsisten mendukung program-program penguatan peran keluarga dalam pendidikan. Gerakan Ayah Mengambil Rapor ini sukali kami laksanakan sebagai bentuk komitmen madrasah dalam mendukung tumbuh kembang anak secara utuh,” tambahnya.
Hj. Warsi juga menjelaskan bahwa GEMAR merupakan inisiatif nasional yang digagas oleh BKKBN, yang kini bertransformasi menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), bersama pemerintah daerah di Indonesia. Program ini mendorong para ayah untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak, salah satunya dengan hadir ke sekolah saat pembagian rapor.

“Gerakan ini bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan, mengatasi fenomena fatherless, membangun kedekatan emosional antara ayah dan anak, serta menegaskan pentingnya kesetaraan peran ayah dan ibu dalam mendidik generasi masa depan,” jelas Hj. Warsi.
Melalui pelaksanaan GEMAR ini, Hj. Warsi berharap madrasah tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang sehat antara sekolah dan keluarga. “Ketika ayah hadir, anak merasa dihargai, diperhatikan, dan didukung. Inilah fondasi penting untuk membentuk generasi yang percaya diri, berkarakter, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.






