Lawang (MTsN 3 Malang) – Dalam rangka mendukung Pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), khususnya pada area Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik, MTsN 3 Malang menyelenggarakan kegiatan Penguatan Pelayanan Prima bagi tenaga kependidikan, petugas PTSP, satpam, petugas kebersihan, dan driver, Selasa (30/12). Kegiatan ini menghadirkan Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Wilayah 18 Malang, sebagai mitra pelatihan service excellence yang berlangsung di aula madrasah gedung asrama putri.
Kepala MTsN 3 Malang, Hj. Warsi, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelayanan prima menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan madrasah yang profesional, bersih, dan melayani. Menurutnya, pembangunan Zona Integritas tidak hanya bertumpu pada sistem dan regulasi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang menjalankan layanan secara langsung. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi bagi seluruh unsur pelayanan madrasah menjadi sebuah keniscayaan.

Hj. Warsi menjelaskan bahwa pelayanan di MTsN 3 Malang menuntut seluruh elemen, mulai dari staf pelayanan, satpam, driver, hingga petugas kebersihan, untuk tidak hanya bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, tetapi juga menampilkan empati, antusiasme, serta tanggung jawab demi kepuasan masyarakat pengguna layanan pendidikan. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BNI Kantor Wilayah 18 Malang, yang telah berkenan memberikan pelatihan pelayanan prima sebagai bagian dari penguatan kualitas layanan publik di lingkungan madrasah.
Lebih lanjut, Hj. Warsi menyampaikan bahwa BNI dipandang sebagai institusi yang memiliki pengalaman dan reputasi unggul dalam bidang pelayanan publik dan perbankan, sehingga sangat relevan untuk menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas layanan madrasah. Ia berharap sinergi antara dunia pendidikan dan perbankan ini dapat terus berlanjut sebagai wujud kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan layanan pendidikan yang profesional, humanis, dan berintegritas.
Sementara itu, pemateri dari BNI Kantor Wilayah 18 Malang, Ratih Yunita Widyarini, menjelaskan bahwa pelatihan ini menekankan pergeseran pola pikir dari sekadar memberikan layanan standar menuju pelayanan prima atau service excellence. Menurutnya, pelayanan prima bukan hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga bersikap proaktif, empatik, dan berorientasi pada kepuasan serta loyalitas pengguna layanan, termasuk orang tua siswa dan tamu madrasah.

Ratih Yunita Widyarini juga memaparkan bahwa pelayanan prima harus dibangun melalui sikap positif, kemampuan profesional, perhatian terhadap kebutuhan pengguna layanan, penampilan yang rapi, tanggung jawab terhadap keluhan, tindakan nyata dalam membantu, serta simpati dalam berinteraksi. Selain itu, personal branding dan gaya profesional menjadi bagian penting dalam pelayanan, karena penampilan, bahasa tubuh, dan komunikasi yang ramah akan membentuk citra lembaga di mata publik.
Dalam penjelasannya, Ratih Yunita Widyarini menekankan pentingnya komunikasi yang efektif dalam pelayanan publik, yakni komunikasi yang responsif, transparan, dan mudah dipahami. Pemanfaatan platform digital juga dinilai sebagai bagian dari upaya mempermudah akses informasi serta meningkatkan kualitas interaksi antara madrasah dan masyarakat.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi roleplay atau bermain peran yang dipandu oleh Novia. Dalam sesi ini, peserta diajak mempraktikkan langsung pelayanan sesuai dengan bidang tugas masing-masing, mulai dari petugas keamanan, resepsionis, PTSP, hingga petugas kebersihan. Para peserta memerankan situasi menerima tamu, memberikan informasi, hingga menangani kebutuhan dan keluhan dengan pendekatan pelayanan prima.

Pada sesi lanjutan, setiap praktik yang telah dilakukan kemudian dievaluasi bersama. Peserta diajak merefleksikan cara berkomunikasi, sikap tubuh, pilihan kata, serta respons yang diberikan, untuk menemukan pola pelayanan yang paling tepat, ramah, dan profesional. Evaluasi ini bertujuan agar peserta tidak hanya memahami konsep pelayanan prima, tetapi juga mampu menerapkannya secara konsisten dalam tugas sehari-hari.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya penampilan dalam pelayanan publik, mulai dari kerapian potongan rambut, penggunaan jilbab yang rapi dan nyaman bagi perempuan, cara berpakaian yang sopan dan profesional, hingga pentingnya senyuman sebagai bentuk keramahan. Penampilan yang rapi dan sikap yang hangat dinilai sebagai bagian dari pelayanan yang tidak terpisahkan dalam menciptakan kenyamanan dan kepercayaan bagi masyarakat pengguna layanan.






