Lawang (MTsN 3 Malang) – Bertempat di hotel Ibis Styles Malang, Senin (29/05) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten selaku mitra Unicef Indonesia melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi tahap dua program penerapan disiplin positif dan pencegahan perundungan madrasah di provinsi Jatim. Kegiatan turut dihadiri oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Prov. Jatim serta perwakilan dari madrasah penyelenggara roots dan penerapan disiplin positif di Jawa Timur.
Ketua LPA Klaten dalam sambutannya menegasakan bahwa, “meskipun program ini masih berjalan satu semester saja, akan tetapi sudah memberikan dampak positif terhadap perubahan cara mendisplinkan peserta didik dengan baik, maka harapannya pada kesempatan hari ini kita akan banyak diskusi, saling mengemukakan saran dan harapan”, tegas Achmad Syakur.
Pernyataan tersebut sejalan dengan sambutan kedua oleh UNICEF Indonesia diwakili oleh Zubaidi yang menjelaskan bahwa “5 lembaga pendidikan madrasah di Jawa Timur yang sudah mendapatkan ilmu pengetahuan dispo dan roots, harus meneruskan program baik ini untuk mewujudkan Madrasahku Surgaku”, jelas Zubaidi.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kemenag Prov. Jatim dalam sambutannya menjelaskan bahwa “Kepala kantor Kementerian Agama wilayah Jawa Timur mendukung penuh program ini, dan nanti dari 5 lembaga pendidikan madrasah di Jawa Timur ini akan menyebarkan kepada lembaga pendidikan madrasah lain, agar peserta didik merasa krasan dan nyaman saat di madrasah”. tegas H. Santoso.

Memasuki acara inti monitoring, kegiatan dipandu oleh Hendri Souisa yang mengawali dengan memberikan pandangan untuk mengubah mindset dan metode cara mendisiplinkan siswa sesuai konsekuensi logis yang bisa diterima dengan baik dan nantinya bisa merubah karakter peserta didik kearah lebih baik sehingga mereka akan sadar dengan apa yang mereka lakukan, ungkap master trainer disiplin positif.
Tidak hanya itu Hendri juga menjelasakan bahwa “Sanksi di lembaga pendidikan secara sistem harus tetap ada, hanya saja siswa harus tahu dan sadar dengan perilakunya apabila mendapatkan konsekuensi logis yang diberikan oleh pendidik”, terangnya. Sebagai penutup pada monitoring capaian program dispo dan roots hari ini, ada kalimat yang diutarakan oleh Hendri,” tidak ada siswa luar biasa lahir dari guru biasa, melainkan siswa luar biasa akan lahir dari guru yang luar biasa pula”, pungkasnya.
Sementara itu, Hj. Warsi selaku kepala MTsN 3 Malang mengemukaan saran bawah,”perlu adanya bimbingan dispo roots yang dikhususkan kepada para kepala madrasah, karena nahkoda utama jalan tidaknya program dispo dan roots dilembaga pendidikan madrasah mulai dari MI, MTs, dan MA adalah kepala madrasah”, terangnya. (ih)






