Lawang (MTsN 3 Malang) – Lawang, 09 Agustus 2024 MTsN 3 Malang mengadakan Sosialisasi Peningkatan Konsentrasi Belajar Menggunakan Terapi Warna dan Pembelajaran Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital kepada seluruh kader SSK (Sekolah Siaga Kependudukan). Sosialisasi tersebut diadakan di Aula Asrama Putri Mahad Islam Riyadhotul Uqul MTsN 3 Malang.
Kegiatan ini bekerja sama dengan narasumber dari Kementerian Kesehatan Poltekkes Malang. Beberapa narasumber yakni, Nurul Hidayah, S.Kep.Ns.M.Kep., Agus Setyo Utomo, SST.M.Kes., Marsaid, S.Kep.Ns.M.Kep., dan Tri Nataliswati, S.Kep.Ns.M.Kep.
Terdapat dua materi yang diberikan kepada Kader SSK. Pertama, peningkatan konsentrasi belajar menggunakan terapi warna. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa terapi warna adalah metode pengobatan alternatif yang menggunakan warna untuk merangsang titik syaraf pada tangan dan kaki. Metode ini dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar. Dalam sosialisasi diberikan contoh bahwa warna orange memberikan efek meningkatkan energi otak. Pada materi tersebut para kader SSK diminta praktik langsung penggunaan terapi warna dengan dibagikan spidol warna-warni. Mereka harus mencoret ruas jari tangan pertama (paling atas) menggunakan spidol warna orange untuk meningkatkan konsentrasi otak. “Akan tetapi hal ini harus didasari dengan niat untuk bisa terwujud,” ungkap Agus Setyo Utomo.

Kedua, pembelajaran pemeriksaan tanda-tanda vital. Pada materi ini kader SSK diberikan materi cara mengukur tekanan darah, mengukur suhu tubuh, menghitung respirasi/per pernapasan, dan menghitung denyut nadi. Kader SSK sangat antusias mendapatkan materi tersebut disertai praktik langsung kepada teman sebayanya. Praktik dipandu oleh Marsaid dan Tri Nataliswati dengan disediakan berbagai alat pengukur.
Kepala MTsN 3 Malang, Dra. Warsi M.Pd., sangat bersemangat dengan adanya kegiatan tersebut. “Para kader SSK, harus menyebarluaskan informasi yang didapatkan mengenai peningkatan konsentrasi belajar menggunakan terapi warna dan pembelajaran pemeriksaan tanda-tanda vital kepada teman sebaya yang tidak mengikuti sosialisasi. Hal ini dikarenakan semakin banyak yang mengetahui maka semakin banyak peserta didik yang merasakan manfaatnya,” ungkap Warsi.






