Lawang (MTsN 3 Malang) – Dengan mendatangkan trainer nasional Disiplin Positif, Rabu (21/06) seluruh pendidik MTsN 3 Malang mengikuti pelatihan disiplin positif dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila Rahmatan Lil Alamin. Pelatihan dibuka secara langsung oleh Hj. Warsi selaku kepala MTsN 3 Malang dan sebagai narasumber utama yaitu Hendri Souisa yang merupakan Master Trainer Disiplin Positif.
Hendri Souisa mengawali materinya dengan menjelaskan relevansi antara kurikulum merdeka dan madrasah ramah anak, “Kurikulum Merdeka adalah Salah satu Program (Episode ) dalam kebijakan Merdeka Belajar yang di gulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yang bertujuan untuk membuat peserta didik belajar dengan antusias, ceria, sesuai minat dan bakat dengan indikatornya yaitu sekolah yang Aman, Nyaman, Menyenangkan dan Inklusif” sedangkan Madrasah Ramah Anak yaitu “Salah Satu bentuk dari Satuan Pendidikan Ramah Anak yang di kembangkan Oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan di akomodir oleh Kementerian Agama yang memiliki indikator Asri, Ramah, Indah, Inklusif, Sehat, Aman dan Nyaman”, Jelas Hendri Souisa.

Hendri Souisa menambahkan bahwa dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya keterkaitan antara Kurikulum Merdeka dan Madrasah Ramah Anak, yaitu untuk memenuhi lingkungan/sarana prasarana maupun pendekatan pembelajaran dan pembinaan serta pemenuhan hak anak atas pendidikan. Oleh karena itu Hendri Souisa menjelaskan “Pendekatan disiplin positif dalam Merdeka Belajar adalah sebuah tawaran metode yang mengutamakan dialog dengan peserta didik. Jadi, mari kita tumbuhkan dialog bersama peserta didik kita untuk menumbuhkan tanggung jawab atas kesadaran dirinya. Penerapan disiplin positif harus menjadi gerakan bersama,” tambah Hendri Souisa.
Lebih lanjut Hendri Souisa menjelaskan bahwa disiplin positif harus diterapkan untuk diri sendiri terlebih dahulu dengan membiasakan diri sendiri dan rasakan manfaat perubahannya lalu maknai perubahan baik itu dan biasakan kepada orang lain. Jika sudah maka dapat melanjutkan utuk mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar di kelas dengan mengajar dan mendidik sebagai proses fasilitasi yang memampukan anak, membangun kesepakatan kelas berperilaku di kelas dan di sekolah, pertemuan berkala kelas untuk refleksi kesepakatan kelas dan menumbuh kembangkan pemikiran dan perilaku positif peserta didik, menggunakan motode kolaborasi dibandingkan kompetisi, penataan ruang kelas yang menunjung proses pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengambil peran dan tanggung jawab, ungkap Hendri Souisa.
Sementara itu, kepala MTsN 3 Malang menjelaskan bahwa dari penjelasan pemateri dapat disimpulkan bahwa sebelum adanya peluncuran Kurikulum Merdeka pada tahun 2022, MTsN 3 Malang telah memulai program Madrasah Ramah Anak, yaitu pada tahun 2019, saya sebagai kepala madrasah mengikuti Bimbingan Teknis Sekolah Ramah Anak pada tingkat provinsi, selanjutnya kami mengajukan kepada Kementerian Agama untuk diterapkan di MTsN 3 Malang, dan Alhamdulillah pada tahun 2022 MTsN 3 Malang ditunjuk sebagai koordinator MRA Kabupaten Malang dan sebagai salah satu madrasah pilot project penerapan disiplin positif dan roots anti perundungan di Indonesia, jelas Hj. Warsi.
Selain itu Hj. Warsi berharap bahwa melalui kegiatan ini dapat mendorong peserta didik untuk memahami dan menerapkan disiplin positif di madrasah sehingga pendisiplinan melalui kekerasan dalam berbagai bentuk dapat dihindari, selain itu penerapan disiplin positif juga diharapkan akan membantu pembentukan karakter pelajar yang juga positif sesuai dengan enam dimensi pada Profil Pelajar Pancasila Rahmatan lil Alamin, yaitu Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berahlak Mulia, Berkebhinnekaan Global, Bergotong- royong, Mandiri, Bernalar kritis dan Kreatif, ungkap kepala MTsN 3 Malang. (abft)






