Lawang (MTsN 3 Malang) – Berbagai upaya telah dilakukan madrasah untuk meningkatkan mutu pendidikan, diantaranya melengkapi sarana dan prasarana pendidikan serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Sebagai salah satu satuan Pendidikan yang menjadi pilot project dari penerapan kurikulum merdeka, MTsN 3 Malang mengundang Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd sebagai narasumber kegiatan Workshop Penyusunan UKBM Mapel PAI dan Bahasa Arab Berdeferensiasi dan Penguatan Implementasi Kurikulum Merdeka dan Madrasah Ramah Anak.
Diikuti oleh seluruh pendidik MTsN 3 Malang dan bertempat di gedung aula asrama putri, Senin (19/06), kegiatan workhshop dibuka dan diawali dengan sambutan Kepala MTsN 3 Malang. Dalam sambutannya Hj. Warsi menjelaskan bahwa kegiatan workhsop pagi ini merupakan rangkaian dari beberapa workshop implementasi kurikulum merdeka yang telah kita laksanakan sebelumnya. Namun, jika workshop sebelumnya pada tahap persiapan implementasi kurikulum merdeka, workshop pagi ini akan memfokuskan pada Pembelajaran Berdeferensiasi, yang merupakan salah satu karakter utama dari kurikulum merdeka untuk memberikan fleksibilitas guru dalam melakukan pembelajaran, jelas kepala MTsN 3 Malang.
Selain itu, Hj. Warsi juga menambahkan bahwa dengan pembelajaran berdeferensiasi juga akan menguatkan MTsN 3 Malang sebagai Madrasah Ramah Anak (MRA), dengan perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan anak didik, anak tidak harus dipaksakan melakukan sesuatu, tetapi dengan program tersebut anak secara otomatis terdorong untuk mengeksplorasi dirinya, pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik, dimana peserta didik mempelajari materi pelajaran berdasarkan kemampuannya, apa yang mereka sukai dan bagaimana cara belajarnya, jelas kepala MTsN 3 Malang.

Selesai sambutan, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd selaku narasumber utama workshop. Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd mengawali materinya dengan berdialog interaktif dengan peserta workshop dan berharap bisa membuat peserta workshop untuk merdeka, merdeka belajar sesuai dengan keinginan kita asalkan dalam mengembangkannya sesuai dengan pakemnya, oleh karena itu kita harus bisa merubah paradigma bahwa guru bukan sebagai aktor, namun sebagai sutradara, yang mengatur tingkah laku dari aktor yaitu peserta didik, sehingga dapat menjadikan kelas sebagai masyarakat pembelajar, jelas Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd.
Ditambahkan oleh Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhannya masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya, jelas Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. Selanjutnya kegiatan worhshop dilanjutkan dengan kegiatan teknis, yaitu Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd mengajak para peserta workshop untuk menyusun Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) yang berdeferensiasi yang sesuai dengan kurikulum merdeka, dan dilanjutkan untuk mendiskusikan produk UKBM masing-masing pendidik kemudian membahas secara bersama serta didiskusikan untuk menyempurnakan. (abft)






