Lawang (MTsN 3 Malang). Dalam upaya memperingati tahun baru Islam 1442 Hijriah, MTsN 3 Malang mengadakan peringatan muharram secara virtual dan santunan secara cashless (non tunai) kepada siswa yatim maupun yatim piatu. Bertempat di masjid As-Salam MTsN 3 Malang, Jum’at (28/08) kegiatan diawali dengan pembacaan maulid dan kesenian banjari yang disiarkan secara live streaming youtube dan aplikasi web meeting.
Imam Ghozali selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa pelaksanaan tahun baru Islam 1442 Hijriah saat ini berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya, kegiatan dilaksanakan secara sederhana dan tidak menghadirkan seluruh siswa, hal tersebut dikarenakan kondisi pandemi yang terjadi saat ini, akan tetapi meskipun tidak dihadiri oleh seluruh siswa namun bisa diikuti oleh seluruh siswa melalui live streaming via youtube. Dilanjutkan oleh Imam Ghozali bahwa kegiatan inti pada peringatan 10 Muharram kali ini yaitu santunan kepada siswa yatim dan yatim piatu, namun guna meminimalisir kontak fisik dan mencegah penyebaran Covid19 maka santunan dilakukan secara cashless atau non-tunai maupun transfer, ungkap Imam Ghozali.

Kepala madrasah dalam sambutannya menjelaskan kembali tentang kejadian yang terjadi tepat pada tanggal 10 muharram, hal tersebut agar seluruh peserta kegiatan muharram mengetahui makna yang terjadi pada peringatan 10 Muharram. Dijelaskan oleh Warsi, beberapa kejadian yang terjadi pada 10 Muharram antara lain yaitu; diterimanya taubat Nabi Adam Alaihissalam, dikeluarkannya Nabi Yunus dari perut ikan dan Allah membela lautan melalui tongkatnya Nabi Musa Alaihissalam.
Dilanjutkan oleh Warsi, bahwa dalam kondisi pandemi saat ini bisa jadi bahwa Allah telah memberikan teguran kepada manusia melalui bahasa filsafat antara lain yaitu; pertama, penggunaan masker yang menggambarkan agar kita menjaga mulut agar selalu berkata benar, Jika tidak lebih baik diam. Kedua, cuci tangan menggambarkan agar kita jangan mengambil yang bukan hak kita. Ketiga, jaga jarak, agar kita selalu menjaga jarak antara halal dan haram. dan yang keempat adalah new normal, yang bermakna agar hijrah, oleh karena itu melalui momentum tahun baru Islam saat ini kita harus dapat mengadaptasi kebiasaan baru dan hijrah dari hal yang dilarang Menuju hal-hal yang diperbolehkan menurut syar’i, ungkap Warsi. (Abft)






