Lawang (MTsN 3 Malang) – Bertepatan dengan kegiatan Abdan Syakuro, bidang literasi MTsN 3 Malang, Kamis (8/6) terbitkan 1000 cerpen karangan dari seluruh peserta didik MTsN 3 Malang. Kegiatan tersebut ditandai dengan launching 1000 cerpen dalam 33 ontologi karya untuk Guru. Erick selaku ketua bidang literasi menjelaskan bahwa melalui gerakan literasi kepala madrasah berhasil mendorong peserta didik untuk produktif menulis hingga menghasilkan karya yang terwujud dalam bentuk buku, jelas Erick.
Ditambahkan oleh Erick bahwa kegiatan literasi madrasah telah terwadahkan melalui program yang telah diluncurkan oleh kepala MTsN 3 Malang yaitu Gerakan Literasi Madrasah (Gelem) pada 6 tahun yang lalu, lebih tepatnya pada tahun 2018, dalam perjalananya program Gelem sudah mempublish lebih dari 50 buku yang sebagian besar sudah memiliki ISBN (International Standard Book Number) yang merupakan kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik, sehingga buku-buku tersebut terdaftar pada Perpustakaan Nasional RI, jelas Erick.

Sementara itu, Kepala MTsN 3 Malang mengaku bersyukur hingga terselesaikan serta launching kumpulan cerita pendek tentang guru yang ditulis oleh seluruh siswa MTsN 3 Malang, buku ini akan menjadi kenangan yang mengingatkan mereka bahwa telah hadir sook guru inspiratif yang mengukir hati dan pikiran mereka, jelas Hj. Warsi.
Ditambahkan oleh kepala MTsN 3 Malang bahwa kumpulan cerita pendek tentang guru yang terbingkai dalam karya untuk Guruku ini tak lahir tiba-tiba, namun atas dukungan banyak pihak. Terimaksih yang sedalam-dalamnya untuk tim Literasi Matsaneti dan para Pembimbing Akademik yang berjuang keras memotivasi siswa untuk menulis, para editor yang sabar dan telaten memandang laptop untuk menjadikan karya siswa berkualitas, serta para siswa yang berani memaksa diri untuk menuliskan isi hati, tambah Hj. Warsi.
Selain itu Hj. Warsi juga berpesan kepada seluruh warga madrasah untuk memiliki kamauan untuk menulis, karena menulis adalah salah satu cara untuk menuangkan pikiran, ide dan respect yang mereka rasakan, oleh karena itu agar tidak hilang ditelan oleh masyarakat maka menulis adalah salah satu cara untuk mengeksistensikan diri, begitu banyak orang pintar tetapi tidak ada karya tulisnya, maka ia ditelan oleh sejarah, pungkas kepala MTsN 3 Malang. (abft)






