Lawang (MTsN 3 Malang) – Malang, 13 Februari 2026, MTsN 3 Malang kembali meneguhkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, berkarakter, dan berdaya saing melalui kegiatan rutin Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Pada kesempatan kali ini, sosialisasi bertema pencegahan kekerasan seksual, bullying, dan intoleransi diisi oleh mahasiswa program Asistensi Mengajar dari UIN Malang, dengan narasumber utama A.H. Wahyu Nugroho.

Kegiatan yang berlangsung di mahad putri MTsN 3 Malang ini dihadiri oleh para kader SSK MTsN 3 Malang. Mereka merupakan garda terdepan dalam menginternalisasi nilai-nilai kependudukan, kesehatan reproduksi, serta pembentukan karakter di lingkungan sekolah. Sosialisasi ini bertujuan memperkuat pemahaman siswa mengenai bahaya kekerasan seksual, praktik perundungan, dan sikap intoleran yang dapat merusak iklim belajar serta menghambat tumbuhnya generasi berprestasi.
Acara resmi dibuka oleh Bu Rusmiati, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peran kader SSK sebagai pelopor perubahan positif di madrasah. “Kegiatan ini bukan hanya sekadar sosialisasi, tetapi juga langkah nyata untuk membangun budaya sekolah yang aman, sehat, dan penuh penghargaan,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, A.H. Wahyu Nugroho menekankan bahwa siswa harus berani bersuara dan bertindak ketika melihat praktik kekerasan atau intoleransi. “Bullying dan intoleransi bukan hanya melukai korban, tetapi juga merusak budaya sekolah. Kader SSK harus menjadi teladan dalam menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan melindungi,” ujarnya. Mahasiswa UIN Malang turut memberikan materi interaktif, simulasi kasus, serta diskusi kelompok untuk memperkuat pemahaman peserta.
Kepala MTsN 3 Malang, Dra. Hj. Warsi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, sosialisasi semacam ini sejalan dengan visi madrasah dalam menanamkan disiplin, nilai religius, dan tanggung jawab sosial. “Kami ingin seluruh siswa merasa aman, terlindungi, dan mampu berkembang sesuai potensi masing-masing,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama para kader SSK untuk menjadi pelopor gerakan anti-kekerasan di lingkungan sekolah. Dengan dukungan mahasiswa UIN Malang dan arahan pimpinan madrasah, diharapkan sosialisasi ini tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar terimplementasi dalam keseharian siswa.






