Lawang (MTsN 3 Malang) Setiap tahun di negara Indonesia tanggal 22 Oktober menjadi hari yang istimewa bagi para Santri. Hal ini dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015. Tidak terkecuali, warga Madrasah Tsanawiyyah Negeri 3 Malang yang berada di daerah Kecamatan Lawang juga ikut ambil bagian dalam perayaan Hari Santri 2020.
Biasanya pada Hari Santri tahun-tahun sebelumnya peringatan Hari Santri akan diperingati dengan kegiatan-kegiatan yang menggugah resolusi Jihad para warga madrassah untuk selalu menjunjung tinggi hakikat santri. Diantaranya, diadakan upacara bendera layaknya upacara saat Hari Kemerdekaan namun dikemas ala santri. Mulai dari petugas, peserta bahkan unsur-unsur upacara disesuaikan untuk menghargai eksistensi santri atas sumbangsih pada negeri. Kegiatan selain upacara juga biasanya dilaksanakan untuk mewadahi gairah santri dalam mengabdi pada negeri, seperti lomba-lomba khusus bagi santri ataupun majlis shalawat atau majlis dzikir yang dilaksanakan dalam skala besar(mengumpulkan banyak massa).
Kini, euforia Hari Santri tahun ini tidak lagi bisa seperti tahun-tahun sebelumnya. Pandemi COVID 19 yang masih mewabah menyebabkan pembatasan jarak dan pengumpulan massa yang terbatas. Hal tersebut tidak dapat ditawar lagi dikarenakan sudah banyak korban jiwa yang menjadi korban dari penyakit ini.

Namun, bukan mental santri namanya jika hanya karena pembatasan tertentu tapi kreatifitas langsung terhenti. Kementerian Agama punya cara sendiri untuk merayakan dan merasakan khidmat Hari Santri 2020, yaitu dengan melaksanakan upacara secara virtual yang diikuti oleh seluruh warga dari Kementerian Agama di Indonesia. Mulai dari pejabat Eselon, rektor Perguruan Tinggi Islam, kepala kantor wilayah, kepala kantor kemenag kab/kota hingga guru beserta perwakilan murid-murid yang ikut serta dalam upacara Hari Santri 2020.
Madrasah Tsanawiyyah Negeri 3 Malang juga ikut serta dalam berkreasi untuk memperingati Hari Santri. Para Guru dan murid serempak memakai baju kebanggan khas santri, para laki-laki memakai bawahan sarung, atasan putih dan berkopyah hitam khas identitas bangsa Indonesia ala bung Karno. Sedangkan wanita memakai gamis atau busana muslim dengan nuansa putih begitu membuat orang yang memandangnya terasa damai.
Ada sebuah kegiatan tambahan yang menarik terjadi di lingkungan madrasah ini. Biasanya, para guru di MTsN 3 Malang ini meluangkan waktu untuk berolahraga tenis meja saat waktu istirahat dari jam pelajaran. Nah, saat Hari Santri kegiatan tersebut tetap berlajut. Uniknya, para guru tersebut bermain tenis meja dengan menggunakan sarung yang jika dilihat dari kejauhan seperti para santri di pondok pesantren yang sedang bermain tenis meja. Hal tersebut menjadi bukti kecil bahwa Santri tidak akan pernah berhenti berkontribusi untuk negeri. Sarungan bukan menjadi alasan para santri menjadi terpinggirkan, menjadi termarjinalkan, apalagi hanya menjadi opsi kedua untuk mengisi kedudukan-kedudukan yang strategis dalam membangun marwah dan martabat negeri ini.
Semoga pandemi cepat angkat kaki dari bumi maritim ini. Semoga kita semua bisa menjadi santri yang dianggap oleh guru-guru kita dan diridhoi oleh Allah SWT. Semoga dengan santri jayalah negeri. (lnt)






