Lawang (MTsN 3 Malang) – Bertempat di Aula Gedung Asrama Putri, Senin (27/10), MTsN 3 Malang menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam yang diikuti oleh seluruh anggota KKMTs 03 Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman para pendidik madrasah dalam mengimplementasikan KBC secara komprehensif di satuan pendidikan masing-masing.

Acara dibuka dengan sambutan dari Hj. Warsi, Kepala MTsN 3 Malang sekaligus Ketua KKMTs 03 Kabupaten Malang. Dalam arahannya, Hj. Warsi menegaskan pentingnya membangun budaya dan iklim madrasah yang penuh cinta. “Budaya dan iklim madrasah harus berakar dari cinta. Cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, serta cinta kepada tanah air. Semua itu terwujud dalam kebiasaan sehari-hari, mulai dari menyambut murid dengan senyum, pelaksanaan salat dhuha berjamaah, ceramah tujuh menit, hingga pembiasaan berbahasa Indonesia yang baik. Semua praktik itu merupakan wujud penguatan karakter berbasis cinta,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa penerapan KBC di MTsN 3 Malang menjadi tonggak penting dalam menciptakan madrasah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter mulia dan berjiwa sosial.

Selanjutnya, Miftahul Khoir, selaku Pengawas Bina KKMTs 03 Kabupaten Malang, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan berterima kasih kepada seluruh madrasah anggota KKM yang terus berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan. “Kita patut bersyukur karena di wilayah KKMTs 03 ini terdapat madrasah yang menjadi pilot project implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Hal ini menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi bagi kita semua untuk mengembangkan pendidikan yang menumbuhkan karakter kasih sayang, empati, dan keteladanan,” tutur Miftahul Khoir.
Memasuki sesi inti, Indah Afifah, selaku Wakil Kepala Bidang Akademik MTsN 3 Malang, menyampaikan materi mengenai Konsep Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa KBC menekankan keseimbangan antara aspek intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik. “KBC tidak berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, tetapi diintegrasikan dalam seluruh proses pembelajaran. Guru menjadi teladan cinta melalui pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada murid,” jelasnya.

Setelah penyampaian konsep dasar, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yang membahas Strategi dan Implementasi KBC dalam Pembelajaran Mendalam. Indah Afifah menekankan pentingnya perencanaan yang kolaboratif, desain pembelajaran berbasis proyek, serta asesmen autentik yang menggambarkan perkembangan karakter dan keterampilan murid secara utuh.
Kegiatan ditutup dengan sesi Diskusi dan Praktek Pembuatan Perangkat KBC dalam Pembelajaran Mendalam yang dipandu oleh Tim Kurikulum MTsN 3 Malang. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi, saling bertukar ide dan pengalaman dalam mengembangkan perangkat pembelajaran yang berlandaskan cinta dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.






