Lawang (MTsN 3 Malang) – Dalam rangkaian pengambilan Laporan Hasil Belajar semester genap Tahun Pelajaran 2024/2025, Kamis (19/06), MTsN 3 Malang menghadirkan 700 ayah-ayah hebat. Kegiatan bertajuk “Peran Ayah dalam Mendidik Anak”, merupakan bagian dari program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Bertempat di aula madrasah, kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala MTsN 3 Malang yang mengawali sambutan dengan menyampaikan apresiasi atas antusiasme para ayah peserta didik yang hadir dalam kegiatan ini. “Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran dan kepedulian Ayah-ayah dalam mendampingi proses pendidikan anak-anak kita, serta telah menyempatkan diri untuk hadir di tengah kesibukan Ayah-ayah sekalian,” ujar Hj. Warsi.

Hj. Warsi menambahkan bahwa kehadiran seorang ayah dalam pendidikan anak adalah pilar penting yang tidak dapat tergantikan. “Pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu atau madrasah, namun juga membutuhkan peran aktif seorang ayah. Kehadiran Ayah adalah wujud cinta pertamanya anak dan komitmen dalam membentuk karakter anak, Ini semua dalam konteks mempersiapkan generasi emas 2045, bukan hanya secara fisik dan kesehatan, tetapi juga secara mental dan intelektual” tambahnya.
Lebih lanjut, kepala MTsN 3 Malang menjelaskan bahwa Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) merupakan program dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN). GATI hadir sebagai gerakan moral dan sosial yang menekankan pentingnya kehadiran serta perhatian seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Tujuannya tak hanya menciptakan keluarga yang sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara emosional dan psikologis, ungkap Hj. Warsi.
Senada dengan Hj. Warsi, Daniar, selaku narasumber dari Master Teacher Academia, juga menjelaskan bahwa kehadiran ayah dapat meningkatkan rasa percaya diri, stabilitas emosi, serta prestasi akademik anak, sedangkan ketidakhadiran sosok ayah berpotensi meningkatkan risiko kecemasan, stres, dan masalah perilaku. Dalam sebuah riset, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan angka fatherless tertinggi di dunia.

Daniar menambahkan, karena peran ayah memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap tumbuh kembang psikologis anak, khususnya dalam pembentukan identitas diri, pengelolaan emosi, dan kemampuan bersosialisasi. Ayah disarankan untuk meluangkan waktu bersama anak, menunjukkan kasih sayang, terlibat dalam diskusi, serta berpartisipasi aktif dalam berbagai aktivitas anak guna mendukung perkembangan mereka secara optimal, seperti pada kegiatan di pagi hari ini.
Sementara itu, H. Abdulloh Satar selaku narasumber utama menegaskan pentingnya kehadiran dan peran seorang ayah dalam proses pendidikan anak. “Ayah adalah penentu arah, teladan bagi anak, dan benteng pertama dalam membentuk karakter keluarga. Ayah harus hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional,” jelas Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang.
Sekretaris Komisi III DPRD Kab. Malang tersebut, juga menjelaskan bahwa Fatherless memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, menurut data UNICEF 20,9 % Anak Indonesia tidak memiliki figur ayah. Oleh karena itu, Abdulloh Satar mengajak para ayah untuk lebih banyak melibatkan diri dalam perjalanan tumbuh kembang anak, mulai dari mendampingi belajar hingga menjadi pendengar yang baik di dalam keluarga.
H. Abdulloh Satar menambahkan bahwa partisipasi aktif ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak mencakup memberikan teladan, dorongan untuk kemandirian, dan apresiasi atas usaha anak. Interaksi positif ayah dan anak dapat memperbaiki kualitas pengasuhan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mengembangkan potensi dan bakat anak. Selain itu, anak yang mendapatkan perhatian dari ayahnya cenderung memiliki perilaku yang lebih baik, kontrol emosi yang lebih baik, dan pandangan hidup yang lebih luas.







