MALANG — Dalam rangka mewujudkan generasi muda yang memiliki perencanaan hidup matang serta terhindar dari risiko pernikahan dini, MTsN 3 Malang sukses menyelenggarakan Pelatihan Remaja GenRe (Generasi Berencana) pada hari kamis, 30 Juli 2026. Kegiatan edukatif ini ditujukan khusus bagi seluruh kader Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) MTsN 3 Malang. Mengangkat tema “Rencanakan Masa Depan, Tunda Pernikahan Dini: Generasi Muda Sehat, Cerdas, dan Berprestasi”, pelatihan ini terlaksana berkat kolaborasi dan sinergi antara pihak madrasah dengan institusi kesehatan terkemuka, Poltekkes Kemenkes Malang.

Acara diawali secara khidmat dan dibuka secara resmi oleh Kepala MTsN 3 Malang, Hj. Warsi. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai langkah konkret madrasah dalam mendukung program prioritas pemerintah terkait penyiapan Generasi Emas dan pencegahan pernikahan anak di bawah umur.

“Remaja usia sekolah, khususnya para peserta didik madrasah, berada pada fase krusial dalam pembentukan karakter dan cita-cita. Menunda usia pernikahan bukan berarti membatasi ruang gerak, melainkan memberikan kesempatan emas bagi diri sendiri untuk mengeksplorasi potensi, menempuh pendidikan setinggi-tingginya, dan mematangkan persiapan mental,” tegas Hj. Warsi di hadapan para peserta. Beliau juga menekankan pentingnya peran kader SSK dan PIK-R sebagai garda terdepan dalam menyebarkan informasi positif di kalangan murid. “Kita ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik dan mental, tetapi juga cerdas, berkarakter, serta mampu mengukir prestasi terbaik bagi bangsa dan negara,” tambahnya.

Memasuki sesi inti pelatihan, peserta menerima pembekalan komprehensif dari dua narasumber ahli Poltekkes Kemenkes Malang. Sesi pertama diisi oleh Nurul Hidayah, yang membawakan materi seputar kesehatan reproduksi remaja serta pentingnya merancang peta jalan kehidupan (life planning). Beliau memaparkan secara detail tahapan tumbuh kembang remaja, pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi, serta batasan usia ideal pernikahan baik dari sudut pandang medis maupun psikologis. “Perencanaan masa depan harus dimulai sejak usia remaja. Dengan memiliki life planning yang jelas, remaja akan lebih terarah dalam menentukan skala prioritas, baik dalam pendidikan, karier, maupun kesiapan membina keluarga di masa depan,” jelas Nurul Hidayah.

Sementara itu, sesi kedua dilanjutkan oleh pemateri Agus Setyo Utomo, yang mengupas tuntas dampak multidimensi dari pernikahan dini. Ia memaparkan risiko kesehatan yang mengintai ibu muda dan bayi, ancaman stunting pada generasi mendatang, hingga dampak sosial dan ekonomi akibat ketidaksiapan mental dalam berumah tangga. Tidak hanya memberikan edukasi teoritis, Agus Setyo Utomo juga membekali para kader dengan keterampilan komunikasi interpersonal. Pembekalan ini bertujuan agar para kader SSK dan PIK-R memiliki kemampuan sebagai peer educator (pendidik sebaya) dan peer counselor (konselor sebaya) yang efektif bagi teman-teman di lingkungan madrasah.

Suasana pelatihan berlangsung sangat interaktif dan penuh semangat. Seluruh kader SSK dan PIK-R MTsN 3 Malang tampak antusias menyimak setiap materi, mencatat poin-poin penting, serta aktif mengajukan pertanyaan dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai simulasi konseling sederhana juga diberikan untuk mengasah kepekaan dan pemahaman para siswa.

Melalui pelatihan intensif ini, MTsN 3 Malang berharap para kader yang telah dilatih mampu menjadi agent of change (agen perubahan) di lingkungan sekolah. Diharapkan mereka tidak hanya menerapkan ilmu tersebut untuk diri sendiri, tetapi juga aktif mengedukasi dan mengajak teman sebayanya untuk merencanakan masa depan dengan matang, menghindari pergaulan bebas, serta bersama-sama menolak pernikahan usia dini demi mewujudkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berprestasi.(dms,yla)

INFO MADRASAH

Tinggalkan Komentar

Bagikan tanggapan Anda dengan bahasa yang baik dan relevan dengan isi artikel.

Australian players tend to gravitate toward online casino brands that understand the local market, offering AUD-friendly banking, recognisable pokies themes and round-the-clock support that suits Sydney, Melbourne and Perth time zones. When reviewing the growing list of international operators targeting the region, a few stand out for their tailored bonuses, fast withdrawal processing and compliance with Australian responsible gambling standards. Among them, Velvet spins has earned attention for a polished interface, a steady lineup of pokies tournaments and a welcome package that translates well for Aussie bankrolls. Locals also appreciate the brand's clear payout tables and the way it surfaces jackpot drops in AUD rather than burying values in other currencies, which is a common frustration on competing sites.