Lawang (MTsN 3 Malang). Setelah tahapan seleksi dan penandatanganan kesediaan menjadi agen perubahan anti perundungan, para agen terpilih mengikuti pengukuhan agen Roots madrasah. Bertempat di mini dome madrasah, Rabu (9/11), para agen terpilih mendapatkan pengukuhan secara langsung oleh Kabid Pendidikan dan Madrasah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jatim.
Didampingi oleh H. Sugiyo selaku Subkoordinator Kurikulum dan Kesiswaan serta H. Trianto selaku Subkoordinator Kelembagaan, Kabid Pendma dalam keterangannya mengungkapkan terima kasih atas gerak cepat MTsN 3 Malang dalam mengimplementasikan Madrasah Ramah Anak (MRA) dan berupaya menghilangkan kegiatan perundungan di madrasah, melalui pembentukan agen Roots, ungkap H. Santoso.

Oleh karena itu H. Santoso berharap bahwa dengan terpilihnya dan sudah mendapatkan pengukuhan, para agen perubahan dapat secara maksimal berperan untuk mencegah serta menghilangkan praktek perundungan serta kekerasan dengan menjadi teladan bagi peserta didik yang lain. Selain itu, H. Santoso juga berpesan kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan untuk juga berperan dalam menciptakan madrasah yang ramah anak, dengan menghilangkan segala bentuk kekerasan, baik itu verbal, non verbal, maupun cyber bullying, ungkap kabid pendma Kemenag Jatim.
Sementara itu, kepala MTsN 3 Malang dalam sambutannya menjelaskan bahwa penerapan MRA dalam satuan pendidikan, selain karena instruksi dari Kementerian Agama RI, melaui direktorat KSKK, juga karena memang gerakan hati nurani untuk memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan bahagia kepada seluruh peserta didik, jelas Hj. Warsi.
Selain itu Hj. Warsi juga terkesan dengan sambutan dari Direktur KSKK Kementerian Agama RI, H. Moh Isom, yang menjelaskan untuk membawa bayang bayang surga dalam madrasah. “Jangan sampai ada dalam madrasah hal-hal yang merendahkan derajat manusia, karena di surga itu manusia di manusiakan dan dimuliakan, sebenarnya manusia itu adalah makhluk yang sempurna, bayang bayang surgawi itu kita masukkan dalam madrasah kita”. Oleh karena itu, seluruh kegiatan di madrasah harus merefleksikan di surga, madrasahku surgaku (madrosati jannnati), kita wujudkan di semua civitas akademika, jangan sampai ada pelecehan seksual, kejahatan seksual, perundungan dan tidak ada kekurangan gizi (stunting), ungkap Kepala MTsN 3 Malang. (abft)






