Lawang (MTsN 3 Malang) – Prestasi tingkat nasional kembali ditorehkan oleh MTsN 3 Malang. Dalam ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tingkat Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI. Berlangsung pada 10–13 November 2025 di Asrama Haji Grand El-Hajj, Cipondoh, Kota Tangerang, tim MTsN 3 Malang yang beranggotakan Muhammad Tristan Alvino dan Dwirafa Maulana Pamondo berhasil meraih Medali Perak melalui karya inovatif berjudul BLUE-I (Blue Water Intelligent System): Sistem Deteksi Kebocoran Pipa Air Berbasis Digital.
Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khadijah pada malam Awardee OMI 2025 di Tangerang Banteng, menjelaskan OMI bukan hanya sekadar ajang kompetisi, namun juga menjadi wadah bagi generasi muda madrasah untuk mengembangkan pola pikir ilmiah, sikap kritis, dan inovasi berbasis riset. “Ajang nasional ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama RI dalam mendukung terciptanya wahana membangun semangat kompetisi bidang riset dan bidang saint di kalangan siswa madrasah,” jelas Nyayu Khodijah.
kepala MTsN 3 Malang menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian ini. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa murid MTsN 3 Malang tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu berinovasi di ranah riset dan teknologi modern. Dari 9.349 dokumen riset dari jenjang MTs dan MA, hanya 36 tim terbaik dari MTs dan MA yang berhak melaju ke babak grand final untuk mempresentasikan riset mereka di hadapan dewan juri nasional. Mereka memperebutkan medali di setiap emas, perak, dan perunggu. Alhamdulillah, tim MTsN 3 Malang berhasil meraih perak setelah melalui proses seleksi dan penilaian yang panjang,” ungkap Hj. Warsi bangga.

Selain itu, kepala MTsN 3 Malang juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak, prestasi ini adalah buah dari kolaborasi murid, guru pembimbing, orang tua, serta seluruh stakeholder madrasah. Kami akan terus mengembangkan ekosistem riset agar lebih banyak inovasi lahir dari MTsN 3 Malang, serta menguatkan literasi sains, literasi digital, serta budaya riset sehingga madrasah menjadi ruang tumbuh generasi yang unggul dan solutif, jelas Hj. Warsi.
Sementara itu, Tristan dan Dwirafa menjelaskan bahwa karya risetnya mengangkat isu kebocoran pipa air bersih yang menyebabkan kerugian besar bagi daerah, bahkan di Kota Malang saja kerugian diperkirakan mencapai Rp 1 miliar per bulan. Melalui inovasi riset berjudul BLUE-I (Blue Water Intelligent System), mereka merancang sebuah sistem digital cerdas untuk mendeteksi kebocoran pipa air berbasis IoT, sensor tekanan dan aliran, serta machine learning. Sistem tersebut mampu membaca pola distribusi air, mendeteksi anomali secara real-time, menampilkan data pada dashboard digital interaktif, serta mengirimkan peringatan dini otomatis melalui Telegram kepada operator. Berdasarkan uji ahli, inovasi BLUE-I dinyatakan “Sangat Layak” (93,33%) dan “Layak” (85%) untuk diimplementasikan sebagai solusi nyata bagi PDAM dalam pengelolaan air bersih.






