Lawang (MTsN 3 Malang) – Selasa 13 Mei 2025, Keberanian MTSN 3 Malang mengambil warna Tahfidz untuk Ma’had membutuhkan upaya, kerja keras dan dukungan dari semua pihak. Jajaran pimpinan, komite dan pelaksana harian terus belajar bagaimana berkhidmat, melayani dengan baik. Dengan ditangani oleh mudir dan asatid yang semuanya pernah nyantri, pernah mengaji pada Kyai meyakinkan bahwa ajaran yang diberikan di Ma’had ini bersanad kuat. Keberlangsungan dan tersambungnya sanad menguatkan hubburrasul cinta pada Rasulullah.
Upaya untuk sampai pada titik hari ini yakni munaqosyah sungguh luar biasa, meskipun tidak terlepas dari kekurangan dan kekhilafan, namun upaya untuk selalu memperbaiki diri salah satunya dengan menjadi uswah dalam mencintai dan ngopeni Alquran dengan kuat mengaji banyak dan banyak mengaji, istiqomah murojaah, semangat ziyadah. Hubbulquran hakekatnya adalah hubbunnafs karena Alquran yang akan menjadi penolongnya. Motivasi dari Ustadz Manzilurrahman R, M.Kom penguji dari UIN.
Munaqosah bukan akhir dari upaya menghafal Alquran, munaqosah bukan tujuan utama tetapi setidaknya menjadi salah satu indikasi pelaporan hasil pembelajaran yang selama ini dilaksanakan. Munaqosah digelar dengan melibatkan dosen Hafiz dari UIN Maliki Malang sebagai mushohhih yang dalam hal ini diwakili oleh Ustadz Manzilurrahman Romadhon, M. Kom dan Ustadz Ulil Absor, SS.

Kepala MTsN 3 Malang Dra. Hj. Warsi, M.Pd menjelaskan bahwa apapun perolehannya apapun hasilnya munaqosah ini digelar dengan upaya yang luar biasa karenanya jika ada hasil yang di luar ekspektasi yang diharapkan, itulah pembelajaran baik bagi pengelola maupun bagi santri. Ada hal penting lain yang perlu diraih yakni berkah, berkah mengaji banyak berkah murojaah Istiqomah dan berkah ziyadah yang mungkin berkahnya belum bisa dirasakan sekarang namun yakin ke depan akan memberikan atsar yang luar biasa.
Ma’had MTSN 3 Malang bertekad untuk terus memperbaiki strategi ta’lim, tahfidz dan diniyah untuk diimplementasikan di tahun-tahun mendatang. Terus solid dan istiqomah mendidik mengajar, merangkul anak-anak santri dengan penuh cinta, menyayangi mereka dengan hati bak anak atau adik sendiri wujud hubbunnas yang kelak siap dipertanggungjawabkan di hadapan Allah” demikian Warsi menaruh harapan, dari para asatidz dan mudir.






