Lawang (MTsN 3 Malang) – Kementerian Agama RI secara resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai arah baru pendidikan madrasah dan sekolah keagamaan Islam di Indonesia. Launching nasional ini berlangsung khidmat dan inspiratif di Kota Makassar, Kamis (24/07), dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, beserta jajaran pimpinan Kementerian Agama.
Turut hadir dalam acara tersebut, Dirjen Pendidikan Islam Prof. H. Amin Suyitno, Direktur KSKK Madrasah Prof. Hj. Nyayu Khodijah, serta sejumlah kepala madrasah percontohan (piloting) implementasi KBC dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kepala MTsN 3 Malang, Hj. Warsi.
Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan respon visioner terhadap tantangan zaman, seperti meningkatnya kasus perundungan, intoleransi, hingga degradasi lingkungan. “Kurikulum ini bukan hanya dokumen administratif, melainkan gerakan moral dan spiritual yang menempatkan cinta sebagai poros pendidikan: cinta kepada Tuhan (Hubullah), cinta kepada sesama (Hubbunnas), dan cinta kepada alam (Hubbul Biah). Inilah Trilogi Cinta Jilid II, yang akan menjadi landasan menuju Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadaban,” tegas Prof. K.H. Nasaruddin Umar.

Dirjen Pendis, Prof. H. Amin Suyitno, menambahkan bahwa KBC adalah jawaban atas krisis nilai dalam dunia pendidikan. “Melalui pendekatan kasih, empati, dan penghargaan terhadap keragaman, KBC akan mencetak generasi beriman, berakhlak, dan peduli terhadap lingkungan. Ini adalah kerja besar yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan: madrasah, keluarga, dan masyarakat,” jelasnya.
Senada dengan itu, Direktur KSKK Madrasah, Prof. Hj. Nyayu, dalam pidatonya menyampaikan bahwa keberhasilan implementasi KBC akan diukur dari tiga indikator utama: terwujudnya madrasah ramah lingkungan, madrasah ramah anak, serta kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik. “Kita tidak hanya ingin mencerdaskan, tetapi juga membentuk anak-anak yang tangguh jiwanya, sehat raganya, dan kuat akhlaknya. KBC bukan hanya inovasi kurikulum, tapi gerakan perubahan budaya belajar,” ungkapnya.
Kepala MTsN 3 Malang, Hj. Warsi, yang hadir sebagai perwakilan madrasah piloting KBC menyampaikan apresiasi dan komitmen untuk mengimplementasikan KBC secara menyeluruh di lingkungan madrasah. “Kami merasa bangga dan terhormat menjadi bagian dari madrasah percontohan pelaksana Kurikulum Berbasis Cinta. Di MTsN 3 Malang, kami telah memulai dengan penyambutan siswa penuh cinta, pembiasaan ibadah harian, pembelajaran ramah anak, serta penguatan karakter melalui gerakan literasi, riset, dan cinta lingkungan. KBC adalah nafas baru bagi pendidikan madrasah, dan kami siap menjadikannya budaya dalam setiap ruang belajar,” tegas Hj. Warsi.






