Lawang (MTsN 3 Malang) – Malang, 20 Juli 2023, Menanamkan cinta dan persaudaraan di Madrasah Ramah Anak menjadi ikon event kali ini. Diadakan di Dome Matsaneti, hadir dalam kegiatan ini para siswa baru kelas 7 yang tampak ceria dan bersemangat. Dibuka dengan semangat tinggi yel-yel yang berbunyi”Aku hadir untuk datang dan bersemangat!” seruan yang terdengar lantang dari peserta Matsama.
Dipandu Kak Eri, seorang agen perubahan asal Solo yang telah bergabung dengan Unicef Indonesia sejak tahun 2008, sanga tmewarnai kegiatan ini. Beliau menyelenggarakan sebuah survei mengenai cita-cita para siswa kelas 7 dengan menggunakan bahasa yang komunikatif. Survey singkat itu berkesimpulan bahwa profesi apa pun yang disebutkan siswa untuk menggambarkan cita-cita mereka, adalah mulia. Siapa pun harus saling menghargai.

Dalam interaksinya dengan siswa, Kak Eri menekankan pentingnya makna persaudaraan dan pertemanan yang baik, yakni saling melindungi dan menyemangati satu sama lain. Beliau juga menegaskan agar tidak ada tindakan saling mengejek atau membully sesama teman. Jika mengalami hal ini, maka kita wajib untuk bicara, menjelaskan, dan melaporkan agar publik tahu dan pihak berwenang segera membantu menyelesaikannya. Tujuan utamanya agar kejadian serupa tak terulang kepada siapa pun dan di mana pun.
Dengan ekspresi bersahabat dan sikap ramah, Kak Eri mengajarkan siswa untuk membiasakan diri memberi salam dan mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah peduli dan melindungi mereka, serta membuat mereka bahagia bersama. Sikap ini diyakini dapat memperkuat ikatan persaudaraan di antarateman. Namun, di tengah-tengah pesan cinta dan kasih sayang, terkadang muncul hal yang tidak diharapkan. Kak Eri mengingatkan tentang pentingnya mencintai orang tua, sahabat, dan sekolah dengan niat yang baik, yaitu konteks kebaikan. Namun, terkadang atas nama cinta, tindakan agresif seperti memukul juga bisa muncul. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk mengenali bahwa mencintai tidak berarti melakukan tindakan yang menyakiti orang lain.
Dalam acara ini juga disepakati beberapa konsensus yang harus diikuti oleh semua peserta, seperti tidak memanggil teman dengan nama orang tuanya dan tidak memanggil teman dengan menyebutkan kekurangan fisiknya. Jika ada siswa yang mengalami pembulian, mereka didorong untuk berani berbicara, melapor, dan mencari bantuan agar tindakan tersebut segera dapat diatasi.
Selanjutnya, para siswa yang menjadi agen perubahan diberi kesempatan untuk melakukan presentasi pada pukul 07.41. Ada sebelas orang kakak kelas agen perubahan pendamping kelas 7.1 hingga 7.11 yang secara berani mempresentasikan ide-ide mereka. Mereka tampil meyakinkan, rendah hati, dan ekspresif menunjukkan stabilitas emosi yang andal. Materi yang mereka sampaikan mudah dipahami oleh semua peserta Matsama. Luar biasa, sesipresentasi ini berlangsung kondusif dan komunikatif.
Demikianlah, Roots diharapkan berhasil menanamkan nilai-nilai cinta, persaudaraan, dan kebaikan di tengah-tengah siswa-siswa Madrasah Ramah Anak. Dengan semangat dan antusiasme, mereka siap menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi sekolah dan lingkungan sekitarnya. Semoga.
Bravo Matsaneti, Madrasah Ramah Anak!!! (rhm)






