Lawang (MTsN 3 Malang) – Bertempat di Ma’had Putri MTsN 3 Malang, Kepala Madrasah berdialog dengan 80 orang tua peserta didik terkait pemetaan kemampuan baca Al-Qur’an. Dalam kesempatan tersebut, Hj. Warsi menjelaskan bahwa melalui GEFA (Gerakan Furudhul Ainiyyah), MTsN 3 Malang berkomitmen membangun kesadaran beribadah yang kuat bagi seluruh warga madrasah. Saat ini, tercatat 80 siswa membutuhkan pendampingan khusus dari rumah agar kemampuan mengajinya semakin lancar.
“GEFA MTsN 3 Malang peduli terhadap pengamalan furudhul ainiyyah para siswa, sebagai bentuk tanggung jawab kami kepada orang tua yang telah mempercayakan putra-putrinya belajar di Matsaneti. Namun, di atas segalanya, ini adalah tanggung jawab terbesar kita kepada Allah SWT,” ungkap Hj. Warsi.
Beliau mengundang para orang tua untuk merasakan langsung suasana Madinah setiap pagi di MTsN 3 Malang. Sejak pukul 06.30, madrasah dipenuhi lantunan ayat-ayat suci, ketenangan, dan kekhusyukan. Para siswa meletakkan tas di kelas, lalu bergegas menuju masjid bagi siswa putra, dan menuju mini dome bagi siswa putri, untuk melaksanakan salat Dhuha berjamaah. Seluruh guru dan tenaga kependidikan berjaga di titik-titik strategis, memastikan ibadah berlangsung tertib, diiringi wirid dan bacaan surat pilihan setiap harinya.
Bahkan, hal sederhana seperti penataan sandal tidak luput dari perhatian GEFA. Menuju masjid, seluruh jamaah menggunakan sandal, bukan sepatu, demi menjaga kesucian tempat ibadah. Sandal ditata rapi per kelas, menghadap kiblat, sehingga jamaah tidak perlu membelakangi masjid saat melepasnya. “Indahnya beragama itu tercermin dari hal kecil, seperti kerapian dan adab,” jelas Hj. Warsi.

Bagi siswi yang berhalangan salat, mereka diarahkan ke kelas keputrian yang dibagi menjadi tiga kelompok per jenjang. Kehadiran mereka dipantau tim GEFA untuk mencatat siklus menstruasi. Jika ada siswi yang tercatat berhalangan salat lebih dari dua minggu berturut-turut, akan dilakukan pemanggilan khusus untuk edukasi kesehatan reproduksi dan kewajiban ubudiyah.
Hj. Warsi mengakui bahwa jam pembelajaran membaca Al-Qur’an di madrasah yang hanya dua jam pelajaran per pekan masih kurang bagi siswa yang belum lancar. Karena itu, ia memotivasi orang tua agar turut mendampingi anak di rumah. “Segala upaya harus kita lakukan. Lancar mengaji adalah salah satu cara menyelamatkan generasi,” tegasnya.
Untuk mendukung pendampingan di rumah, tim GEFA menyiapkan Kartu Pintar Mengaji sebagai alat pantau keistiqamahan siswa. Tim GEFA akan terus memonitor perkembangan membaca Al-Qur’an secara berkala, memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang mereka butuhkan.






