Lawang (MTsN 3 Malang) – Malang, 14 Agustus 2023. Sebuahkelas eksklusif Teacher Masterclass telah sukses diselenggarakan oleh Nyalanesia Surakarta di Hotel Leedon Surabaya pada akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu dan Ahad, 12 s.d. 13 Agustus. Kegiatan ini diikuti oleh para guru, dosen, pegiat literasi, dan akademisi, dengan tujuan untuk turut memberikan kontribusi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Malang turut bertisipasi aktif, diwakili oleh kepala–Ibu Warsi, MPd.—dan Ibu Ilin Nurhamidah, M.Pd. sebagai ketua Gerakan Lirerasi madrasah.
Kepala MTsN 3 Malang, Warsi, M.Pd. menyatakan bahwa kegiatan ini penting karena layanan terbaik bagi siswa di madrasah ramah anak memerlukan guru-guru yang secara aktif senantiasa belajar agar simultan dengan perkembangan peserta didik dalam dinamika perkembangan informasi serta perubahan kultur yang cepat. Di sisi lain profesionalitas yang diperoleh guru diharapkan mampu berjalan seiring dengan nilai-nilai yang ada dalam Zona Integritas.
Dalam acara ini, beberapa mentor nasional ternama turut berkontribusi, seperti Dr. Fahrudin Faiz, Dr. Sutejo, M. Hum, Lanang Manggala, dan Helmy Yahya. Salah satu sorotan utama adalah materi yang disampaikan oleh Dr. Fachrudin Faiz S.Ag., M.Ag. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang membahas tentang Filosofi Pendidikan Merdeka dan konsep-konsep penting dalam belajar.

Salah satu poin penting dalam materi tersebut adalah konsep Aqidah dan Filsafat Pendidikan Islam yang diperdalam melalui pemahaman Ki Hajar Dewantara. Para peserta diperkenalkan kepada konsep jenjang pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yang terdiri atas Taman Indria, Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya, dan Taman Guru (Sarjana Wiyata). Ki Hajar Dewantara menyematkan kata taman di tiap jenjang pendidikan diasosiasikan dengan kata “taman” yaitu wilayah yang bernuansa menyenangkan bagi peserta didik.
Prinsip “Hak Anak” dan peran orang tua dalam prinsip “Peran Orang Tua” juga menjadi bagian esensial dalam pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Sistem Among (Among System) yang terdiri atas Asah, Asih, dan Asuh, menjadi landasan bagi pendekatan ini.
Dalam materi tersebut, Ki Hajar Dewantara juga mengajarkan tiga teknik penting dalam pendidikan, yaitu Niteni, Nirokke, Nambahi; Ngerti, Ngerasa, Nglakoni; serta tujuan pendidikan untuk meningkatkan Daya Cipta, Daya Rasa, dan Daya Karsa.
Para peserta diajak untuk memahami dan mengimplementasikan prinsip-prinsip tersebut dalam proses belajar mengajar. Pemanfaatan teknologi komunikasi, pengembangan sosial-skill, menghargai individualitas dan passion, serta menciptakan nuansa non-formal dalam pendidikan menjadi beberapa aspek penting yang menjadi penekanan.
Mentor ke dua, Dr. Sutejo, M. Hum, menyampaikan secara garis besar literasi terkait dengan berbagai program yang bersifat filosofis, integratif, kultural, komprehensif, dan futuristik. Beliau menggaris bawahi pentingnya menjadi guru idola yang tanggap terhadap perubahan zaman, memiliki tema inspiratif dengan emosikuat, serta kemahiran menulis yang terlatih. Hubungan emosional antara peserta didik dan guru adalah sebuah keniscayaan pada konsep ini.
Kompetensi literasi pun dinyatakan secara tegas sangat dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang baik. Helmy Yahya menyatakan bahwa banyak orang pintar yang gagal mencapai posisi puncak karena sombong. Sebagai ilustrasi, beliau sampaikan bahwa seorang Helmy Yahya sukses sebagaimana sekarang karena telah membuang seluruh “kepintarannya” dan kembali menjadi orang “bodoh” saat memulai belajar. Secara umum, orang yang merasa pintar cenderung tidak mudah percaya orang lain, sombong, dan enggan minta tolong. Hal ini merupakan sikap yang seharusnya tidak dilakukan. Terlebih jika berprofesi sebagai guru. Diibaratkannya jika seorang dokter salah suntik pasien, korbannya mungkin hanya seorang. Namun jika guru salah memberikan konsep pembelajaran, yang tersesat bisa ratusan, bahkan ribuan orang. Dalam kesempatan ini disampaikannya pula bahwa dalam meningkatkan kemampuan literasi lisan, agar meyakinkan audiens, dibutuhkan beberapa komponen penting, antara lain logika, etos, phatos/ emosi, kontak mata, empati, dan 3 menit yang sangat menentukan yaitu familiriarisasi, greetings, addressing, dan opening yang menarik.
Secara keseluruhan kegiatan berlangsung menarik. Melalui Teacher Masterclass tersebut, para peserta diberi bekal yang kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi muda yang memiliki kecerdasan emosional tinggi serta kesiapan menghadapi tuntutan zaman yang semakin kompleks. Dengan penuh semangat, para peserta menyatakan siap menerapkan prinsip-prinsip Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan sehari-hari untuk membawa harapan positif untuk masa depan pendidikan di Indonesia. Semoga segenap upaya mewujud dalam diri generasi penerus yang akan mengukir sejarah peradaban. (rhm)






